|
Melompat. Berputar. Melayang. Berdiri diam. Semua gerakan para penari ini diabadikan Itta Wijono, untuk memenuhi kelengkapan ujian akhirnya di Institut Kesenian Jakarta. Meski bentuknya tugas sekolah, jangan bayangkan bahwa kita perlu mengerutkan kening saat melihatnya. Tampilan pameran fotografi berjudul “Inspirasi Ritmis” ini sangatlah cantik dan ceria, serta penuh warna.
Digelar di dua tempat, Galeri Foto Jurnalistik Antara dan di Art Cinema FFTV-IKJ, Jakarta, pengunjung pameran akan dibawa menikmati menit-menit pergerakan dalam balet Swan Lake dari Rusia. “Saya mengikuti mereka ketika mengadakan pertunjukan di Jakarta dan Yogyakarta tahun 2009 lalu,” tutur Itta saat pembukaan pameran. Itta menganggap bahwa momentum tahun ini sangat tepat untuk melaksanakan pameran, karena tahun ini menandai 60 tahun hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia.
Lakon karya Pyotr Illyich Tchaikovsky yang digelar pertama kali di Teater Bolshoi pada 1877 itu memang begitu masyhurnya, hingga banyak dibahas dalam berbagai bentuk. Untuk materi pamerannya ini, Itta membidik pergerakan para penari dengan cermat, menyuguhkan gerak berirama. Di sinilah tantangan dimulai. “Tak ada pengulangan gerak. Dan saya harus siap menghadapi kemungkinan terburuk, misalnya ada penonton yang tiba-tiba berdiri di depan saya, menghalangi lensa,” kenang Itta. Hasilnya? Pergerakan sekecil apa pun dalam foto, tampil menjadi sesuatu yang kabur. Gambar yang seolah berbayang ini justru menjadi kekuatan. Kecantikan gabungan antara yang nyata dan blur, dijawab Itta lewat karya fotonya yang ia sajikan secara ritmis.
Kegenitan gerak rok tutu rasanya pernah membius tiap gadis cilik untuk menjadi ballerina. Ketika melihat “Inspirasi Ritmis” karya Itta, kenangan masa kecil itu seperti mengemuka. Membuat siapa saja yang melihat ingin bergerak, melompat, melayang, dan mendarat dengan posisi sempurna sang ballerina.
Penulis: Itta Wijono. Foto: Dok. Itta Wijono.
|