Witri : terima kasih, Paket VS sudah saya terima hari jumat yang lalu. sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.
budiana : to Witri: boleh kirim data lengkap ke saya? nama, pemenang edisi apa, transfer via bank tgl berapa? email saya di: «email»
Widya : Salam kenal...
ivana happy : Selamat Sore, salam kenal..
Witri : halo2.... mbak mau nanya nih, hadiah yang aku menangin kok masih belum aku terima ya. Aq dapet Valentine secret di GH Mei 2010. Dah transfer pajak juga. Aq harus konfirm kemana ya? Trims
pindi : salam kenal semua, new comer ni, have a nice day...
Arfiata Lubi : selamat pagi semua, salam kenal
heriyanti : hi... lam kenal. senang bisa gabung.
Only registered users are allowed to post
Feed Now
Fans Box
The Best Media Choice
Empati Buat Resti
Tuesday, 11 May 2010 18:20
Stigma buruk di masyarakat, membuat penderitaan Resti (dan ODS lainnya) kian bertambah.
Lewat jendela kaca terlihat orangorang di dalam ruangan itu sedang mendiskusikan sesuatu. Layaknya rapat, mereka duduk mengelilingi meja lonjong yang cukup besar. Serius sekali tampaknya. Sesekali tawa mengembang di wajah mereka. Usai yang satu bicara, peserta rapat lainnya memberikan tanggapan, dan ada juga yang mencatat pernyataan rekannya dalam notebook kecil. Rasa penasaran tiba-tiba muncul. Hmm.. apa yang sedang mereka diskusikan?
Satu jam berlalu, belum ada tanda- tanda rapat akan segera berakhir. Mungkin pembahasan yang terjadi belum juga menemukan titik temu untuk kemudian diambil satu kesimpulan. Perempuan muda berwajah manis dan bertubuh putih, salah satu peserta rapat keluar dari ruangan. Berkerudung pink, tubuh tingginya melenggang melewati meja resepsionis, tersenyum pada wanita yang duduk di meja itu,
lalu menuju restroom. High heels lima sentimeter berwarna cokelat yang ia kenakan menimbulkan gema di ruangan itu. Di sudut lain, di deretan bangku- bangku berwarna merah, ada seorang ibu yang sedari tadi setia menunggu. Wanita setengah baya, yang belakangan diketahui bernama Hennie, menoleh ke arah bunyi sepatu tadi. Ada pancaran kebanggaan di wajahnya. Senyum simpul terukir tatkala ia berkata, “Sayang, di negeri kita ini, masyarakatnya belum bisa menerima keberadaan penderita skizofrenia seperti di luar negeri, misalnya di Australia.” Kata-kata Hennie mengacu pada perempuan tadi, Resti, putri keduanya. Resti adalah penderita skizofrenia.
“Saya mengetahui penyakit Resti pertama kali di tahun 1997. Awalnya ia sering mengeluh sakit kepala. Saat itu juga saya baru tahu kalau pada tahun 1994, ia pernah jatuh di kolam renang dan kepalanya cukup keras membentur lantai. Saya tidak tahu mengapa peristiwa itu tidak diceritakan ke saya.” Henni terdiam sejenak. “Sakit Resti bertambah parah, meskipun sudah dibawa ke dokter. Keluhan lain juga muncul seperti telinga sering berdengung disertai beragam halusinasi, seperti melihat mahluk-mahluk seram, atau merasa terancam karena ada orang asing yang mencoba masuk ke kamar tidurnya.” Hal-hal ini mendorong keluarga Resti memilih jalur pengobatan alternatif. “Kami bingung harus bertindak apa lagi. Butuh waktu lama hingga akhirnya kami memeriksakannya ke dokter syaraf dan didiagnosis menderita skizofrenia paranoid,” tambah Hennie.
Tatapan Hennie terarah ke lantai. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu. Tangannya membuka tas tangan yang sedari tadi berada di pangkuannya, mengeluarkan dompet, lalu memperlihatkan foto-foto ketiga putrinya, termasuk Resti.
“Resti itu anak tengah. Kakak dan adiknya juga perempuan. Dari kecil Resti sudah menunjukkan bahwa kecerdasan dan bakatnya lebih besar dibanding kakak dan adiknya. Prestasinya di sekolah sangat baik. Ia juga pintar menyanyi dan suaranya juga bagus. Bahkan, organ dan piano dipelajarinya secara otodidak. Dulu, waktu anak-anak masih kecil, saya selalu bersyukur bila orang-orang bilang, ‘Wah, anak Ibu sudah cantik-cantik, pintar-pintar lagi.’” Pandangan Hennie pun mengawang- awang. “Saat kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor), Resti juga sempat bilang bahwa ia dicalonkan sebagai ketua senat di kampusnya.
Meskipun cenderung pendiam, Resti memang cerdas. Kalau sudah mengajar, telaten sekali. Tak akan berhenti kalau yang diajar belum mengerti.” Yang paling disesalkan Hennie, Resti tidak bisa melanjutkan kuliahnya akibat skizofrenia. “Sempat terpikir, apakah ini kutukan Tuhan atas saya? Air mata banyak tertumpah. Mimpi dan harapan saya, semua lenyap.” Hennie kembali menunduk. “Sekarang saya pasrah. Apalagi setelah bergabung di Perkumpulan Jiwa ehat. Kami harus mengakui dan ak boleh malu dengan ondisi ini, agar bisa segera mengantisipasinya. on’t deny. Don’t be shy. Don’t Delay. eperti semboyan yang dianut PJS,” ennie menjelaskan.
“Sekarang saya sudah bisa lebih tenang. Meskipun masih rutin untuk mengonsumsi obat setiap hari, saya lihat Resti ada perkembangan. Apalagi, ia aktif di Perkumpulan Jiwa Sehat untuk membantu temanteman sesama penderita skizofrenia. Ia juga sering dipanggil untuk menjadi narasumber. Saya melihat, Resti semakin mandiri.” Hennie tak hanya berkata-kata. Tatapan bangganya saat melihat Resti, menunjukkan bahwa dukungan pada sang putri tak akan berhenti sampai kapan pun.
Comments (0)
Only registered users can write comments!
Bad Hair Day, No Way!
Kondisi alam terbuka memaksa kita menghadapi sinar matahari langsung. Tentunya banyak kendala yang akan dihad...
Menu berbahan dasar spaghetti cocok dibawa dalam perjalanan liburan. Taburan keju dan siraman saus menghasilkan paduan rasa yang pasti disukai anak-an...
Pernah mengalami kesulitan melawan kebiasaan buruk? Entah berapa kali Anda berniat untuk mengubah diri, menghapus kebiasaan buruk, namun terhenti di t...
Kerja tak hanya di kantor saja. Memiliki area kerja di rumah tampaknya sudah menjadi kebutuhan. Tak hanya digunakan oleh Anda dan pasangan, tapi dapat...