Witri : terima kasih, Paket VS sudah saya terima hari jumat yang lalu. sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.
budiana : to Witri: boleh kirim data lengkap ke saya? nama, pemenang edisi apa, transfer via bank tgl berapa? email saya di: «email»
Widya : Salam kenal...
ivana happy : Selamat Sore, salam kenal..
Witri : halo2.... mbak mau nanya nih, hadiah yang aku menangin kok masih belum aku terima ya. Aq dapet Valentine secret di GH Mei 2010. Dah transfer pajak juga. Aq harus konfirm kemana ya? Trims
Only registered users are allowed to post
Feed Now
Fans Box
The Best Media Choice
"Memaksa Sheila Kawin?"
Thursday, 01 April 2010 10:41
Sejak 7 Agustus 2008, praktis sosok Maria Joseph menjadi incaran infotainment. Tepatnya ketika anak bungsunya, Sheila Marcia Joseph, tertangkap tangan sedang menggunakan barang psikotropika. Status Sheila sebagai publik figur, menjadikannya obyek penghakiman oleh semua kalangan, yang secara langsung juga ditujukan kepada Maria Joseph, ibu kandungnya. Tahukah orang-orang itu, bahwa hujatan yang diberikan bagai pisau tajam yang menghujam hati Maria?
Airmata yang keluar, mungkin sudah tak terkira banyaknya. Bait-bait doa permohonan pun tak pernah berhenti keluar dari bibir tipisnya kepada Sang Maha Kasih. Tidurnya tak lagi pulas. Bayangan sang permata hati yang harus menikmati pengapnya ruang penjara, tak bisa dihilangkan dari pikirannya. Seandainya bisa memilih, ingin rasanya badan sendiri yang berada di balik jeruji… menggantikan sang buah hati.
Senyum kebahagiaan kembali terpancar dari wajah wanita paruh baya kelahiran Surabaya, 12 Juni 1957 ini setelah Sheila dinyatakan bebas dari penjara pada Jumat, 6 Maret 2009. Sayang, senyuman manis itu kembali berubah menjadi tangisan memilukan manakala di malam hari yang dingin, 7 September 2009, Sheila dijemput pihak kepolisian Bali dan harus kembali ke Jakarta, untuk menuntaskan masa tahanannya yang ternyata masih tersisa lima bulan.
Sejuta tanya terlontar, tapi entah pada siapa itu dapat ditujukan. Di saat airmata tak mampu dibendung, logikanya harus terus berjalan supaya tak terlihat lemah di hadapan putrinya. Kalimat penghiburan akan kebesaran Tuhan, terus dibisikkan ke telinga Sheila. Meski ia sendiri pun tentu membutuhkan penghiburan serupa. Bantal kesayangan yang biasa menemani Sheila tidur di balik terali besi, juga tak lupa diberikan. Untuk kali kedua Sheila ditahan, Maria sadar betul, bukan hanya putrinya yang sementara tak bisa merasakan peluk hangat bunda, namun juga calon cucu yang sudah hadir di perut anak tercintanya itu.
Ketika akhirnya semua berakhir, tak terkira bahagianya. Siang itu, matahari seolah begitu semangat memancarkan sinarnya. Ini adalah hari ketiga (11 Februari 2010) setelah Sheila betul-betul terbebas dari jeratan hukuman penjara akibat kasus narkoba. Sebetulnya, Maria tidak ingin diwawancara. Dayanya sudah habis terkuras untuk berbagi cerita akan masa-masa kelamnya. Namun karena kasihnya pada semua orang, wanita blasteran Belanda-Jerman-Padang-Jawa-Lampung ini mau berbagi pengalaman, dengan harapan, banyak wanita yang tidak lantas menyerah apabila musibah mendera.
Bagaimana perasaan Anda begitu melihat Sheila keluar dari pintu penjara? Saya menangis, tapi bukan karena sedih, justru saking berbahagianya. Susah deh menggambarkannya, sampai-sampai speechless. Di benak saya hanya bersyukur pada Tuhan Yesus.
Anda betul-betul baru tahu dari pewarta infotainment bahwa Sheila segera keluar? Ya. Lagi pula, malu dong bicara, kecuali Sheila sudah dipanggil dan cap tiga jari, baru deh kami menyatakan dia akan bebas. Bukan kapasitas saya memberitahukannya. Saya harus hati-hati, tidak mau gegabah. Kalau balik di-sue, gimana? Hukum kan tidak main-main. Namun begitu, adakah yang Anda lakukan tanpa diketahui orang lain? Saya lebih mempersiapkan mental Sheila dan menyuruhnya bersyukur pada Tuhan dengan nyanyian. Saya justru takut sekali dia bakal kecewa lagi karena sudah berulang-ulang dikecewakan oleh pihak berwenang. Maaf, saya harus bilang ini. Kekecewaan pertama, ketika Sheila dieksekusi kembali setelah dinyatakan bebas. Kedua, keputusan cuti bersyarat yang orang lain bisa mendapatkannya, tapi kenapa anak saya tidak? Tapi kami ingin taat pada hukum saja.
Artinya, Anda lebih sedih ketika Sheila kembali dipenjara? Sebetulnya, situasi itu tidak bisa dicampuraduk walaupun kenyataannya memang demikian. Namun, saya harus mampu me-manage pikiran sendiri. Sebab, tidak ada yang bisa menolong kita kalau bukan diri kita sendiri. Starting from ourselves, we have to manage our brain and forget about melancholic thoughts.
Waktu penangkapan kembali, Anda merasa ada sesuau yang tidak adil. Tapi mengapa terkesan pasrah? Saya ini siapa? Tuhan sudah menghendaki, semua pasti terjadi. Di Bible juga tertulis bahwa pemerintah dipilih oleh Tuhan. Kalau mereka menyelewengkan jabatan ya terserah, itu bukan urusan saya. Urusan mereka dengan tuhannya.
Anda begitu tabah menghadapinya? Karena ini terjadi atas kehendakNya. Harus tetap disyukuri karena saya bisa membedakan dan merasakan bahwa kasih Yesus pada kami lebih terasa dibanding masalah di hadapan. Saya ini pendosa, tapi dikasih karunia. Itu yang bikin saya sering menangis karena diberikan kasih yang besar, begitu juga Sheila. Sekalipun Anda kembali dihadapkan pada kenyataan akan kehamilan di luar nikah Sheila? Kalau laki-laki yang menghamili tidak bertanggung jawab, saya tidak bisa memaksakan. Ini accident. Saya juga menyalahkan Sheila karena kehamilan ini terjadi atas kemauan dua belah pihak. Tapi Puji Tuhan, saya bangga dengan Sheila yang mau mempertahankan janinnya.
Mempertahankan? Apakah, maaf, pernah ada niat tidak melanjutkan kehamilan? Waktu tes pertama, hasilnya negatif, tapi entah kenapa Sheila selalu bilang ingin mempertahankan janinnya. Kedua, oleh dokter yang sama, dinyatakan kalau janin berada di luar kandungan dengan maksud ya... begitulah, saya tidak bisa menjelaskan apa maksudnya. Terserah penafsiran orang saja. Kalau waktu itu kami gegabah dan teledor sama ciptaan Tuhan, mungkin saja kan kami melakukan sesuatu yang istilahnya melanggar hukum? Sheila bilang, ‘No, apa pun risikonya, aku akan menjaga kandungan ini’. Begitu kami pindah ke dokter lain, ternyata si janin tidak ada masalah. Tuh, begitu jahatnya manusia, ya! Karena taat, Sheila dijadikan icon Antiaborsi. Biaya melahirkan dan kesehatan si bayi hingga berumur dua tahun, semua ditanggung RS Harapan Bunda. Keputusan untuk tidak menggugurkan kandungan dan menjadi single parent murni dari Sheila sendiri.
Kondisi ini, tentu akan menimbulkan cemoohan di kultur ketimuran yang kita anut... Masalahnya, saya dan suami menganut adat di Bible. Kami tidak mau memaksakan kawin kalau akhirnya bercerai. Itu penyiksaan namanya. Apalagi sampai menggugurkan ciptaan Tuhan hanya karena takut diomongin orang lain. Thank God, Sheila memutuskan sendiri untuk tidak melakukannya. Seumur hidup keturunan saya akan terkutuk kalau mengeluarkan janin itu. Bukannya cuek. Kami hanya takut Tuhan. Tidak peduli kata manusia. Masyarakat juga tidak perlu tahu siapa ayahnya. Kalau kami announce, nama laki-laki itu bakal dicantumkan di belakang nama anak itu, dong? Tidak perlu lah....
(Obrolan terhenti. Maria menahan tangis. Kerutan di wajah cantiknya terlihat jelas. Sambil memperhatikan kuku jari-jari tangannya yang dilapisi kuteks berwarna abu-abu, ibu dari Patricia, Barry, dan Sheila ini melanjutkan percakapan.)
Kadang-kadang, cerita ini seperti membuka luka lama yang sudah ingin saya closed. Makanya, saya tidak tidak mau diwawancara lagi kecuali untuk Good Housekeeping. Sudah sudah... sakit bila mengenangnya. (Pertanyaan kembali dihentikan. Sambil menarik napas dalam-dalam, Maria ingin memastikan kalau Sheila yang berada di kamarnya sambil menikmati susu segar, tidak melihatnya bersedih. Obrolan pun berlanjut.)
Anda sudah membelikan apa saja untuk calon cucu? Baby stroller dan box dengan kelambunya. Kami berusaha memilih sesuatu yang aman dan tidak menyulitkan kalau dibawa, mengingat tempat-tempat di sini kan tidak diperuntukkan untuk baby dan orang cacat. Ada rencana menjahit sendiri popok untuknya? Mau beli mesin jahitnya dulu. Mungkin, setelah mobil yang baru dibeli Sheila datang. Hmm... Tuhan Yesus betul-betul dahsyat. Atas pertolongan teman, foto-foto Sheila dijadikan iklan alat-alat tulis. Nilai kontraknya selama dua tahun, bisa untuk membeli mobil baru dan keperluan si kecil. Tidak berlebihan, tapi cukup.
Siapa pun, pasti terkesan dengan ketegaran yang Anda tunjukkan... Saya juga heran dibilang begitu. Padahal saya hanya melakukan yang harus dilakukan. Saya memang tidak terbiasa jalan sendiri kalau ada perlu apa-apa. Maaf... apalagi naik angkot sendiri dan nge-kost. Tapi itu mesti dilakukan dan harus! Saya bangga. Tapi bangganya hanya ke Patricia, Barry, dan suami saya, hahaha.... Kabarnya, yang curhat dengan Anda lewat facebook juga banyak? Sudah dua bulan ini saya hentikan. Curhatan yang positif banyak, tapi banyak juga yang meminta sesuatu yang tidak mungkin saya penuhi. Dan tidak ada privacy lagi, mulai mengganggu. Masak ada yang minta bantuan dana dalam jumlah besar. Saya bukan panti sosial! Bahkan ada yang mengancam dengan membawabawa keselamatan anak saya. Ngeri sekali! Cooling down dululah. Nanti biar orang lain saja yang mengurus jejaring sosial kami.
Comments (0)
Only registered users can write comments!
Bad Hair Day, No Way!
Kondisi alam terbuka memaksa kita menghadapi sinar matahari langsung. Tentunya banyak kendala yang akan dihad...
Menu berbahan dasar spaghetti cocok dibawa dalam perjalanan liburan. Taburan keju dan siraman saus menghasilkan paduan rasa yang pasti disukai anak-an...
Usia paling pas adalah saat ini juga, yang berarti tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat dari sekarang. Sebab waktu sangat berharg...
Kerja tak hanya di kantor saja. Memiliki area kerja di rumah tampaknya sudah menjadi kebutuhan. Tak hanya digunakan oleh Anda dan pasangan, tapi dapat...