|
Kehilangan buah hati senantiasa meninggalkan duka mendalam bagi seorang ibu. Dengan menguatkan hati, Monika Linda menuturkan saat-saat terakhir sang putri tercinta di sisinya, sebelum hipertensi pulmonal merenggut nyawa buah hatinya.
Orang bilang, life begins at fourty. Bisa jadi inilah awal hidup saya, setelah kepergian buah hati saat usia saya menginjak kepala empat. Saya membagi kisah ini bukan untuk menguras air mata, apalagi ingin mengundang simpati. Saya hanya ingin berbagi, mungkin saja yang saya alami dapat berguna bagi pembaca.
Ardela Harlim, adalah anak kedua kami, satu-satunya perempuan. Ia lahir dan tumbuh nyaris sama seperti anak-anak pada umumnya. Hanya pola tidurnya sejak lahir agak berbeda. Dela, begitu kami biasa memanggilnya, seringkali terjaga, menangis sepanjang malam meski telah disusui. Ia lalu tertidur kem- bali karena kelelahan. Tapi lainnya normal saja. Ia berjalan, berbicara, dan bertingkah lucu menggemaskan sesuai pertumbuhan usianya.
Setelah besar, Dela selalu bangun pagi dengan semangat tinggi untuk berangkat sekolah. Jika ada pekerjaan rumah dan tugas sekolah, seolah ia tak sabar segera menyelesaikannya. Dela adalah putri kami yang membanggakan, ia tak pernah menyusahkan orangtua.
DELA DIVONIS HIPERTENSI PULMONAL Suatu hari, saat Dela berusia tujuh tahun, Dela terserang demam berdarah. Di rumah sakit, dokter yang menangani menyarankan agar Dela di-rontgen, karena curiga mendengar detak jantungnya lebih kencang di sebelah kanan. Kami tidak langsung melakukannya karena lebih fokus pada upaya penyembuhan demam berdarah yang dideritanya.
Setelah sembuh dari demam berdarah, hari-hari berlalu seperti biasa, hingga suatu malam Dela mi- misan disertai muntah darah. Segera kami melarikannya ke rumah sakit. Meski cemas, saya mencoba meyakinkan diri kalau mungkin saja Dela hanya kelelahan setelah berlari keliling lapangan saat pelajaran olahraga siang harinya di sekolah. Namun dokter mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Kemungkinan ada kelainan posisi organ jantung yangdialami Dela, karena letaknya ada di sebelah kanan. Saya sempat tidak percaya perkataan dokter.
Namun hasil rontgen menunjukkan jelas letak jantung Dela di kanan. Dokter mengatakan Dela mengidap hipertensi pulmonal, yakni tingginya tekanan darah pada pembuluh darah paru-paru. Tingginya tekanan darah membuat jantung Dela harus bekerja keras memompa darah. Akibatnya jantung Dela cepat lelah.
SAAT-SAAT TERAKHIR SEBELUM DELA PERGI Saya tahu penyakit Dela belum ada obatnya. Tapi saya optimis mengingat toh saya masih bisa merawatnya. Namun, saat dokter mengatakan ia tak akan bertahan lama, tak urung seluruh tubuh ini terasa lemas. Apa yang harus saya lakukan?
Sembari menemani Dela menjalani perawatan, saya terus mencari informasi tentang penyakit anak saya, mulai konsultasi dengan dokter, bertanya pada kerabat dan rekan, sampai menjelajah situs-situs kesehatan di internet. Namun informasi yang saya dapat minim. Sebab selain penyakitnya langka, saya pun tak menemui rekan senasib untuk berbagi informasi.
Saat dokter mengatakan usia Dela tak akan panjang, saya masih berbesar hati, membayangkan bahwa yang dimaksud tidak lama itu barangkali sampai Dela remaja, menjadi mahasiswa. Ternyata tidak. Tak sampai dua bulan setelah echo jantung (pemeriksaan medis untuk memantau kondisi jantung lewat layar monitor), Dela pergi untuk selamanya.
|