Loading
 
Username
Password
Save
E-mail
E-mail
Name:
Username
Password
again..
E-mail
 
 
 
Latest Message: 1 day, 21 hours ago
  • Sesillia Amb : Hi salam kenal to all...new mmeber nih...pliss share info info ya..trims...
  • nilam setiaw : hii.. gw baru gabung... mau nanya,, knp siyh artikel nya lama2 semua.. terbitan yg baru gak ada gtu??
  • nilam setiaw : hii.. gw baru gabung... mau nanya,, knp siyh artikel nya lama2 semua.. terbitan yg baru gak ada gtu??
  • Aulia Audra : Hi.. salam kenal, wah thanks ya dah bisa gabung di sini, nice web, tapi kok coba gabung mailing list masih belum bisa ya?? Thanks GH
  • merlyn : Thanks deh GH buat websitenya...
  • Dorra Rustam : Mbak Dian, wow amazing lho websitenya. 2 jempol deh buat GH. Keep up the good work ya..
  • Aditya Fajar : Halo GH, saya coba join mailing list, kok ngga bisa ya?
  • budiana : halo ibu2.... salam kenal ya... ini Budiana pemimpin redaksi GH. terima kasih sdh mampir ke sini.... Buat Mbak Setyowatie, bln desember lalu kami buat acara di Surabaya mbak. Di Resto Nine. Segera akan dibuat lagi... jgn khawatir... :D
  • dinda : TERIMA KASIH
  • dinda : DINDA

Only registered users are allowed to post

 
Feed Now
Goodhousekeeping.co.id
Fans Box

The Best Media Choice

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • Good Housekeeping
  • Good Housekeeping
  • Good Housekeeping
  • Good Housekeeping
  • Good Housekeeping
Good Money - Goodhousekeeping.co.id
Mengikuti Jejak Sukses Pedagang Cina
Tuesday, 09 March 2010 18:50

Kesuksesan bisnis bukan bakat, kerja keras mengiringi. Lalu mengapa pedagang Cina terkenal merajai bisnis? Dengan mempelajari strateginya, Anda juga bisa mengikuti jejak mereka.Tengoklah benda-benda di sekeliling Anda. Berapa banyak di antaranya yang berlabel made in china? Mulai dari mainan anak, perlengkapan rumah tangga, hingga peralatan elektronik. Bangsa Cina memang sejak dulu kala dikenal sebagai bangsa pedagang. Lihat saja pusat-pusat perbelanjaan. Berapa banyak kios laris yang digawangi oleh pedagang keturunan Cina? Pernahkah terpikir oleh Anda apa yang membuat mereka dapat begitu sukses dalam dunia perdagangan? Mulai barang elektronik hingga restoran, semua dikelola pintar oleh mereka hingga mengantar keuntungan yang tidak sedikit. Berbisnis tak cukup bermodal keuletan saja. Mumpung masih di awal tahun, Anda yang berminat mencoba banting setir ke dunia wirausaha namun dan masih gamang menjalani, bisa meniru strategi sukses pedagang Cina menjalankan roda bisnis.

Jejak 1 : Membangun Kepercayaan
Keuntungan adalah syarat utama berjalannya bisnis, namun keuntungan tidak selalu harus besar. Yang penting, keuntungan bisa membuat bisnis Anda tetap hidup dan berkembang. Jika Anda memutuskan berbisnis, lakukanlah dengan total meski itu bisnis sampingan. Mengapa demikian?

Dengan total berbisnis, Anda akan berpikir jauh ke depan, berusaha agar keuntungan terus menghampiri. Berupaya terus menarik pelanggan, dengan membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah modal utama yang diyakini oleh para pedagang keturunan Cina. ”Kepercayaan adalah kunci bisnis yang sukses untuk jangka panjang,” ujar Istijanto Oei, konsultan bisnis dan juga penulis buku Rahasia Sukses Toko Tionghoa. ”Mereka lebih rela untung tipis asal pelanggan terus kembali lagi,” lanjutnya. ”Misalnya dalam menjual produk, jika mutu produknya biasa-biasa saja, dengan tegas ia akan mengatakan kepada pembeli bahwa produk tersebut biasa saja, kemudian akan menawarkan produk lain dengan mutu yang lebih baik,” jelasnya.

Pedagang menyediakan barang dengan aneka standar kualitas berbeda untuk memberi kebebasan memilih. Pelangganlah yang menentukan produk yang akan dibeli, yang murah dengan kualitas rendah atau sedikit mahal dengan kualitas lebih baik. Pedagang hanya memberi tahu tanpa memaksa pembeli. Di sinilah kepercayaan dibangun. Sebaliknya jika tidak total menjalankan bisnis, Anda akan cenderung berpikir jangka pendek. Yang penting keuntungan besar dalam waktu singkat. Akibatnya kualitas barang terabaikan, sebab yang terpikir di otak adalah yang penting laku, tak peduli pelanggan puas atau tidak. Akhirnya usaha Anda pun terancam cepat mati karena pelanggan enggan kembali.

Jejak 2 : Menyiasati Utang
Mengembangkan bisnis membutuhkan modal tidak sedikit. Berutang memang tak dianjurkan, namun banyak pedagang terpaksa melakukannya demi pengembangan bisnis. Jika Anda memilih berutang, perhatikan sumbernya. Utang tak selamanya berasal dari bank. ”Untuk utang, pedagang Tionghoa memanfaatkan sumber-sumber seperti saudara dan pemasok barang (supplier),” ungkap Istijanto. Kerabat adalah orang terdekat dan terpercaya untuk dimintai bantuan, sekaligus Anda dapat terhindar dari jeratan bunga. Pemasok barang pun dapat dimintai kerjasama. ”Sistem konsinyasi atau titip barang yaitu laku baru bayar pun sering digunakan. Cara-cara seperti ini menghindarkan dari beban bunga,” tambah Istijanto.

Utang yang terkontrol membuat keuntungan bisnis tidak digerogoti beban bunga. Pastikan pula utang yang Anda lakukan adalah utang produktif. Artinya Anda berutang untuk menyokong usaha, bukan untuk sekadar show off agar usaha terlihat bonafid. Gunakan utang untuk memperbaiki kualitas produk, bukan semata mempercantik interior toko.

Jejak 3 : Mengelola Keuntungan

Tujuan utama berbisnis adalah memperoleh keuntungan. Namun saat keuntungan berhasil diraih, bukan berarti Anda berhenti sampai di sana. Banyak usahawan pemula terlalu gembira memperoleh keuntungan dan merasa berhak menikmati buah jerih payahnya sesuka hati. “Seringkali orang menganggap uang dari bisnis sama dengan uang pribadi. Ini menyebabkan orang lupa diri sehingga berfoya-foya menghabiskan uang bisnis untuk kesenangan pribadi,” ujar Istijanto. Padahal keuntungan yang tidak dikelola dengan baik dapat menggerogoti perusahaan. Pertama-tama, pisahkan uang pribadi dengan uang bisnis. Keuntungan bisnis dibagi untuk pembayaran utang dan pengembangan investasi.

Sisanya, baru sebagai gaji Anda, yang boleh digunakan sesuai kebutuhan pribadi. Lalu apalagi yang dilakukan pedagang Cina? Mereka pun tidak suka membiarkan uang menganggur, uang harus dibuat produktif dan menghasilkan
uang lagi. “Mereka akan mencoba memutar dana secara produktif. Pilihan pertama adalah menginvestasikannya ke barang dagangan yang laku keras dan cepat terjual. Cara ini akan melindungi keuangan mereka dari inflasi. Kalau harga naik, harga barang dagangannya ikut naik, bandingkan kalau pegang uang cash,”jelas Istijanto.

Jejak 4 : Hemat dan Sederhana
Pernahkah Anda memperhatikan toko-toko kepunyaan pedagang Cina? Banyak di antaranya yang berukuran kecil dan “acak-acakan” namun dikunjungi banyak pembeli. Dan bagaimana penampilan mereka di toko? Sangat sederhana, kan? “ Pedagang Tionghoa memang hidup hemat atau irit. Pengeluaran yang tidak perlu dan dirasa sebagai pemborosan akan dikurangi bahkan dihentikan. Untuk urusan kerja, mereka cukup memakai pakaian bersahaja,” ujar Istijanto Bagi mereka, pamer bukanlah sikap bisnis yang menguntungkan. Mereka beranggapan pedagang tak boleh bersikap seperti bos di depan pelanggan. Secara psikologis penampilan yang terlalu ”wah” membuat pelanggan merasa ”segan”.

Mereka yakin pelangganlah bos sesungguhnya. Pelanggan mana yang tidak suka dilayani bak ”raja”? Dalam keseharian, pedagang Cina yakin hidup mewah tidak perlu dilakukan terburu-buru. “Dengan berhemat, mereka memperkuat fondasi ekonominya terlebih dulu,” tutur Istijanto.Setelah ekonominya stabil, pemasukan bertambah, kehidupan berkecukupan pun akan datang dengansendirinya. “Tidak ada istilah malu. Biarlah pakaiannya jelek yang penting usahanya membesar.” Sederhana sekali bukan? Semua orang tahu jika hemat pangkal kaya, tapi pedagang cina menerapkannya dalam keseharian bukan sekadar peribahasa.

Jejak 5 : Bekal yang Cukup
Untuk memperoleh keterampilan berbisnis, kebanyakan orang Cina mendidik anak-anaknya mengasah naluri bisnis sejak dini. Mereka melibatkan putra-putri mereka dalam aktivitas perdagangan sehari-hari, misalnya menyuruh anak-anak membantu di toko. Dengan demikian, anak-anak akan melihat bagaimana bisnis berjalan, termasuk mempelajari cara orangtuanya melayani aneka karakter pelanggan yang berbeda. Perlahanlahan hal tersebut meresap dalam otak si anak dan tanpa disadari mereka belajar praktek bisnis yang tentu berguna bagi pengalaman hidup.

Kebanyakan pedagang Cina percaya, untuk sukses dan terampil menjalankan bisnis harus mulai dan belajar dari bawah. Memang usia bukan halangan, belajar setelah dewasa pun tak terlambat. Namun pengenalan sejak dini membuat sifat pedagang sejati tertanam lebih dalam. “Ini juga yang melandasi anakanak Tionghoa membuka jenis bisnis yang sama dengan orangtuanya karena mereka sudah mendapat transfer ilmu bisnis dari orang tua sejak anakanak,” tegas Istijanto.

Jejak 6 : Tidak Asal Ikut Tren
Anda tentu ingat menjamurnya kafe tenda beberapa tahun lalu, lalu aneka distro anak muda yang bermunculan di saat bersamaan. Tren bisnis tertentu kerap menggoda untuk diikuti karena larisnya pembeli. Namun tidak demikian halnya dengan pedagang Cina. “Tren saja tidak cukup, kalau mereka tidak yakin ada dukungan sehingga berhasil. Mereka harus yakin memiliki kemampuan diri menjalankan bisnis yang dipilih.” ujar Istijanto. Meski salah satu syarat keberhasilan adalah berani mengambil risiko, namun bukan berarti asal berani terjun. “Mereka hanya masuk ke bisnis yang diyakini menguntungkan dan mereka merasa punya kemampuan menjalankannya,” tandas Istijanto.

Bahkan bagi pedagang Cina, antarpedagang sebaiknya saling melengkapi jenis dagangan. Sehingga tercipta iklim saling mendukung satu sama lain. Misalnya, sebuah bengkel mobil akan mengambil berbagai onderdil yang diperlukan dari toko kawannya atau toko-toko sekitarnya. Di sini tak hanya pembeli yang diuntungkan tetapi antarpedagang pun “terjamin” penghasilannya.

Jejak 7 : Fengshui
Fengshui bukan sekadar mitos, tetapi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan struktur geografi bagaimana orang Cina mencari lokasi untuk perdagangan dan rumah tinggal. “Dengan fengshui, mereka mencari lokasi yang berprospek bisnis bagus. Misalnya dari segi suasana ruang, posisi pintu, dan aliran udara, ” jelas Istijanto.” Tidak hanya lokasi, tata letak dalam toko pun diperhatikan. Bukan untuk keindahan semata tetapi juga bertujuan untuk membuat produkproduk yang dijual menarik perhatian pembeli dan membuat konsumen nyaman berbelanja. “Fengshui salah satunya digunakan untuk menyelaraskan energi yang masuk ke rumah.

Energi bisa masuk melalui pintu tokoyang terbuka lebar. Toko yang pintunya kurang baik, menyebabkan toko terasa pengap, dan tentu saja hokinya kurang baik,” tambah Istijanto. Upayakan agar pengunjung menjangkau semua bagian ruangan, sebab aliran pengunjung adalah aliran energi.

Pandai-pandailah menempatkan barang dagangan. Istijanto menyarankan agar barang dagangan bermagnet jual tinggi diletakkan di daerah yang sepi pengunjung, dengan maksud pengunjung yang malas menjelajahi daerah ini jadi tertarik. Magnet dimaksud bisa berupa barang best seller, barang diskon, bahkan memanfaatkan kasir dan toilet. Sebab tempat-tempat tersebut kemungkinan besar dihampiri pengunjung. Sedangkan shio sering digunakan untuk melihat kecocokan dengan mitra. “Memilih mitra bisnis yang cocok sangat penting dalam bisnis. Tetapi ini hanyalah masalah keyakinan. Ada yang menyakini, ada juga yang memandang biasa saja,“ pungkasnya.

 
Asumsi yang Menyesatkan
Friday, 15 January 2010 17:33

Pola pikir yang salah membawa perilaku yang salah pula.

1. Berpikir, mudah-mudahan ada rejeki tambahan, lalu tergoda diskon dan belanja di luar budget. Cari dahulu rejeki tambahan itu, baru berbelanja.

2. Memberi akan mengurangi harta. Jangan pelit. Ada saat memberi ada saat menerima. Anda menuai yang Anda tanam. Saat memberi, Anda pun akan sadar dan bersyukur betapa besar yang Anda miliki.

3. Keberuntungan akan datang tanpa diduga. Lupakan impian sukses dalam semalam. Cara tercepat untuk menjadi kaya hanyalah berproses melalui tahap demi tahap dan itu memakan waktu. Bisnis besar memakan waktu untuk tumbuh selama bertahun-tahun. Hanya kerja keras yang akan mengirimkan keberuntungan.

 
Tip Mengelola Keuangan Dari Teja
Thursday, 19 November 2009 17:27

- Bedakan antara utang produktif dan utang konsumtif. Utang konsumtif adalah utang untuk barang-barang sekunder, utang ini sebaiknya dikurangi, kalau bisa dihindarkan. Sementara utang produktif adalah utang yang digunakan untuk kebutuhan utama, seperti cicilan KPR atau cicilan kendaraan.

Read more...
 
Mengenal Uang
Thursday, 19 November 2009 16:57

Menabung adalah aktivitas sederhana namun tampak berat untuk dilakukan. Untuk membuat aktivitas menabung jadi menyenangkan bagi anak-anak, Citi Indonesia bersama Teater Koma memanggil Agen Penny dan Will Power untuk mengajak anak-anak Indonesia gemar menabung sejak dini.

Read more...
 


 

Rahasia Tampil Lebih Muda

Selain dengan dukungan skin care yang tepat, cara membuat penampilan tampak lebih muda adalah dengan bantuan riasan yang tepat. Jika jeli, pilihan war...
 

Bandang Bandeng

Ikan Bandeng ukuran besar adalah simbol kemakmuran, tak pernah terlupakan dalam sajian menu Imlek. Dalam bahasa Cina, ikan sama pengucapannya dengan h...
 

Jangan Menyerah! Jangan Putus Asa!

Anda ingin naik gaji? Ingin lebih diperhatikan oleh keluarga? Ingin anak buah di kantor lebih menghormati Anda? Ada caranya!

Sering kali da...
         

Hunian Berbunga

Meskipun hari kasih sayang telah berlalu, tak ada salahnya menata bunga sendiri untuk menghias kediaman Anda.

 

Dana Darurat

Hidup penuh risiko, Anda tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Sedia payung sebelum hujan memang nasiha...
 

Pisces

Jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Karier&Keuangan: Tidak susah kok mengatur anggaran keuangan. Fashion&Beauty: Bangle masih menjadi pilihan untu...
         
 
 
About UsContact UsJoint to Mailing List SubcribeAdvertiseRecommended LinksTerms & Conditions
MRA MEDIA GROUP - Good Housekeeping Indonesia
Copyright © 2009