|
Kesuksesan bisnis bukan bakat, kerja keras mengiringi. Lalu mengapa pedagang Cina terkenal merajai bisnis? Dengan mempelajari strateginya, Anda juga bisa mengikuti jejak mereka.Tengoklah benda-benda di sekeliling Anda. Berapa banyak di antaranya yang berlabel made in china? Mulai dari mainan anak, perlengkapan rumah tangga, hingga peralatan elektronik. Bangsa Cina memang sejak dulu kala dikenal sebagai bangsa pedagang. Lihat saja pusat-pusat perbelanjaan. Berapa banyak kios laris yang digawangi oleh pedagang keturunan Cina? Pernahkah terpikir oleh Anda apa yang membuat mereka dapat begitu sukses dalam dunia perdagangan? Mulai barang elektronik hingga restoran, semua dikelola pintar oleh mereka hingga mengantar keuntungan yang tidak sedikit. Berbisnis tak cukup bermodal keuletan saja. Mumpung masih di awal tahun, Anda yang berminat mencoba banting setir ke dunia wirausaha namun dan masih gamang menjalani, bisa meniru strategi sukses pedagang Cina menjalankan roda bisnis.
Jejak 1 : Membangun Kepercayaan Keuntungan adalah syarat utama berjalannya bisnis, namun keuntungan tidak selalu harus besar. Yang penting, keuntungan bisa membuat bisnis Anda tetap hidup dan berkembang. Jika Anda memutuskan berbisnis, lakukanlah dengan total meski itu bisnis sampingan. Mengapa demikian?
Dengan total berbisnis, Anda akan berpikir jauh ke depan, berusaha agar keuntungan terus menghampiri. Berupaya terus menarik pelanggan, dengan membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah modal utama yang diyakini oleh para pedagang keturunan Cina. ”Kepercayaan adalah kunci bisnis yang sukses untuk jangka panjang,” ujar Istijanto Oei, konsultan bisnis dan juga penulis buku Rahasia Sukses Toko Tionghoa. ”Mereka lebih rela untung tipis asal pelanggan terus kembali lagi,” lanjutnya. ”Misalnya dalam menjual produk, jika mutu produknya biasa-biasa saja, dengan tegas ia akan mengatakan kepada pembeli bahwa produk tersebut biasa saja, kemudian akan menawarkan produk lain dengan mutu yang lebih baik,” jelasnya.
Pedagang menyediakan barang dengan aneka standar kualitas berbeda untuk memberi kebebasan memilih. Pelangganlah yang menentukan produk yang akan dibeli, yang murah dengan kualitas rendah atau sedikit mahal dengan kualitas lebih baik. Pedagang hanya memberi tahu tanpa memaksa pembeli. Di sinilah kepercayaan dibangun. Sebaliknya jika tidak total menjalankan bisnis, Anda akan cenderung berpikir jangka pendek. Yang penting keuntungan besar dalam waktu singkat. Akibatnya kualitas barang terabaikan, sebab yang terpikir di otak adalah yang penting laku, tak peduli pelanggan puas atau tidak. Akhirnya usaha Anda pun terancam cepat mati karena pelanggan enggan kembali.
Jejak 2 : Menyiasati Utang Mengembangkan bisnis membutuhkan modal tidak sedikit. Berutang memang tak dianjurkan, namun banyak pedagang terpaksa melakukannya demi pengembangan bisnis. Jika Anda memilih berutang, perhatikan sumbernya. Utang tak selamanya berasal dari bank. ”Untuk utang, pedagang Tionghoa memanfaatkan sumber-sumber seperti saudara dan pemasok barang (supplier),” ungkap Istijanto. Kerabat adalah orang terdekat dan terpercaya untuk dimintai bantuan, sekaligus Anda dapat terhindar dari jeratan bunga. Pemasok barang pun dapat dimintai kerjasama. ”Sistem konsinyasi atau titip barang yaitu laku baru bayar pun sering digunakan. Cara-cara seperti ini menghindarkan dari beban bunga,” tambah Istijanto.
Utang yang terkontrol membuat keuntungan bisnis tidak digerogoti beban bunga. Pastikan pula utang yang Anda lakukan adalah utang produktif. Artinya Anda berutang untuk menyokong usaha, bukan untuk sekadar show off agar usaha terlihat bonafid. Gunakan utang untuk memperbaiki kualitas produk, bukan semata mempercantik interior toko.
Jejak 3 : Mengelola Keuntungan Tujuan utama berbisnis adalah memperoleh keuntungan. Namun saat keuntungan berhasil diraih, bukan berarti Anda berhenti sampai di sana. Banyak usahawan pemula terlalu gembira memperoleh keuntungan dan merasa berhak menikmati buah jerih payahnya sesuka hati. “Seringkali orang menganggap uang dari bisnis sama dengan uang pribadi. Ini menyebabkan orang lupa diri sehingga berfoya-foya menghabiskan uang bisnis untuk kesenangan pribadi,” ujar Istijanto. Padahal keuntungan yang tidak dikelola dengan baik dapat menggerogoti perusahaan. Pertama-tama, pisahkan uang pribadi dengan uang bisnis. Keuntungan bisnis dibagi untuk pembayaran utang dan pengembangan investasi.
Sisanya, baru sebagai gaji Anda, yang boleh digunakan sesuai kebutuhan pribadi. Lalu apalagi yang dilakukan pedagang Cina? Mereka pun tidak suka membiarkan uang menganggur, uang harus dibuat produktif dan menghasilkan uang lagi. “Mereka akan mencoba memutar dana secara produktif. Pilihan pertama adalah menginvestasikannya ke barang dagangan yang laku keras dan cepat terjual. Cara ini akan melindungi keuangan mereka dari inflasi. Kalau harga naik, harga barang dagangannya ikut naik, bandingkan kalau pegang uang cash,”jelas Istijanto.
Jejak 4 : Hemat dan Sederhana Pernahkah Anda memperhatikan toko-toko kepunyaan pedagang Cina? Banyak di antaranya yang berukuran kecil dan “acak-acakan” namun dikunjungi banyak pembeli. Dan bagaimana penampilan mereka di toko? Sangat sederhana, kan? “ Pedagang Tionghoa memang hidup hemat atau irit. Pengeluaran yang tidak perlu dan dirasa sebagai pemborosan akan dikurangi bahkan dihentikan. Untuk urusan kerja, mereka cukup memakai pakaian bersahaja,” ujar Istijanto Bagi mereka, pamer bukanlah sikap bisnis yang menguntungkan. Mereka beranggapan pedagang tak boleh bersikap seperti bos di depan pelanggan. Secara psikologis penampilan yang terlalu ”wah” membuat pelanggan merasa ”segan”.
Mereka yakin pelangganlah bos sesungguhnya. Pelanggan mana yang tidak suka dilayani bak ”raja”? Dalam keseharian, pedagang Cina yakin hidup mewah tidak perlu dilakukan terburu-buru. “Dengan berhemat, mereka memperkuat fondasi ekonominya terlebih dulu,” tutur Istijanto.Setelah ekonominya stabil, pemasukan bertambah, kehidupan berkecukupan pun akan datang dengansendirinya. “Tidak ada istilah malu. Biarlah pakaiannya jelek yang penting usahanya membesar.” Sederhana sekali bukan? Semua orang tahu jika hemat pangkal kaya, tapi pedagang cina menerapkannya dalam keseharian bukan sekadar peribahasa.
Jejak 5 : Bekal yang Cukup Untuk memperoleh keterampilan berbisnis, kebanyakan orang Cina mendidik anak-anaknya mengasah naluri bisnis sejak dini. Mereka melibatkan putra-putri mereka dalam aktivitas perdagangan sehari-hari, misalnya menyuruh anak-anak membantu di toko. Dengan demikian, anak-anak akan melihat bagaimana bisnis berjalan, termasuk mempelajari cara orangtuanya melayani aneka karakter pelanggan yang berbeda. Perlahanlahan hal tersebut meresap dalam otak si anak dan tanpa disadari mereka belajar praktek bisnis yang tentu berguna bagi pengalaman hidup.
Kebanyakan pedagang Cina percaya, untuk sukses dan terampil menjalankan bisnis harus mulai dan belajar dari bawah. Memang usia bukan halangan, belajar setelah dewasa pun tak terlambat. Namun pengenalan sejak dini membuat sifat pedagang sejati tertanam lebih dalam. “Ini juga yang melandasi anakanak Tionghoa membuka jenis bisnis yang sama dengan orangtuanya karena mereka sudah mendapat transfer ilmu bisnis dari orang tua sejak anakanak,” tegas Istijanto.
Jejak 6 : Tidak Asal Ikut Tren Anda tentu ingat menjamurnya kafe tenda beberapa tahun lalu, lalu aneka distro anak muda yang bermunculan di saat bersamaan. Tren bisnis tertentu kerap menggoda untuk diikuti karena larisnya pembeli. Namun tidak demikian halnya dengan pedagang Cina. “Tren saja tidak cukup, kalau mereka tidak yakin ada dukungan sehingga berhasil. Mereka harus yakin memiliki kemampuan diri menjalankan bisnis yang dipilih.” ujar Istijanto. Meski salah satu syarat keberhasilan adalah berani mengambil risiko, namun bukan berarti asal berani terjun. “Mereka hanya masuk ke bisnis yang diyakini menguntungkan dan mereka merasa punya kemampuan menjalankannya,” tandas Istijanto.
Bahkan bagi pedagang Cina, antarpedagang sebaiknya saling melengkapi jenis dagangan. Sehingga tercipta iklim saling mendukung satu sama lain. Misalnya, sebuah bengkel mobil akan mengambil berbagai onderdil yang diperlukan dari toko kawannya atau toko-toko sekitarnya. Di sini tak hanya pembeli yang diuntungkan tetapi antarpedagang pun “terjamin” penghasilannya.
Jejak 7 : Fengshui Fengshui bukan sekadar mitos, tetapi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan struktur geografi bagaimana orang Cina mencari lokasi untuk perdagangan dan rumah tinggal. “Dengan fengshui, mereka mencari lokasi yang berprospek bisnis bagus. Misalnya dari segi suasana ruang, posisi pintu, dan aliran udara, ” jelas Istijanto.” Tidak hanya lokasi, tata letak dalam toko pun diperhatikan. Bukan untuk keindahan semata tetapi juga bertujuan untuk membuat produkproduk yang dijual menarik perhatian pembeli dan membuat konsumen nyaman berbelanja. “Fengshui salah satunya digunakan untuk menyelaraskan energi yang masuk ke rumah.
Energi bisa masuk melalui pintu tokoyang terbuka lebar. Toko yang pintunya kurang baik, menyebabkan toko terasa pengap, dan tentu saja hokinya kurang baik,” tambah Istijanto. Upayakan agar pengunjung menjangkau semua bagian ruangan, sebab aliran pengunjung adalah aliran energi.
Pandai-pandailah menempatkan barang dagangan. Istijanto menyarankan agar barang dagangan bermagnet jual tinggi diletakkan di daerah yang sepi pengunjung, dengan maksud pengunjung yang malas menjelajahi daerah ini jadi tertarik. Magnet dimaksud bisa berupa barang best seller, barang diskon, bahkan memanfaatkan kasir dan toilet. Sebab tempat-tempat tersebut kemungkinan besar dihampiri pengunjung. Sedangkan shio sering digunakan untuk melihat kecocokan dengan mitra. “Memilih mitra bisnis yang cocok sangat penting dalam bisnis. Tetapi ini hanyalah masalah keyakinan. Ada yang menyakini, ada juga yang memandang biasa saja,“ pungkasnya.
|