|
Tak perlu menjauhi orang dengan HIV/AIDS hanya karena takut tertular. Sudah sepatutnya kita paham bahwa penyakit yang disebabkan infeksi virus HIV ini hanya menular melalui kontak langsung antarlapisan kulit dalam, atau dari darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Artinya, penularan hanya dapat ter- jadi melalui kegiatan-kegiatan spesifik, antara lain hubungan seks, pemakaian jarum suntik yang telah terkontaminasi, atau kehamilan dari wanita yang telah positif HIV.
DIPANDANG NEGATIF Sayangnya masih banyak masyarakat paranoid dengan penyakit ini, hingga menjauhi orang-orang yang terinfeksi HIV. “Kadang orang terdekat pasien HIV/AIDS pun menjauhi mereka dan tak mau peduli,”sesal Atik Surya Atmaja, pendamping HIV/AIDS dari Yayasan Pelita Ilmu. Dari Departemen Kesehatan diketahui, hingga awal 2008, jumlah pasien AIDS di Indonesia mencapai lebih dari 11.000 orang.
Menurut Atik, pasien HIV/AIDS sebenarnya sama dengan pasien penyakit berat lain yang ingin bertahan hidup, seperti kanker, jantung koroner atau diabetes. Namun, mereka acapkali didiskriminasi karena imej AIDS yang lebih banyak diidentikkan dengan gaya hidup bebas dan tercela. “Padahal banyak juga pasien AIDS yang tergolong orang-orang berisiko rendah. Mereka bukan pemakai narkoba, bukan pelaku seks bebas, tapi nyatanya hal itu tak menjadikan mereka aman dari AIDS,” jelas Atik.
Wanita yang telah menjadi aktivis AIDS selama lebih dari sepuluh tahun ini berharap orang-orang sehat tergu- gah untuk lebih peduli terhadap pasien HIV/AIDS. “Mereka butuh support dari sisi sosial, spiritual, dan mental. Terinfeksi HIV bukanlah akhir dari hidup seseorang,” terang Atik.
BERI DUKUNGAN Hingga saat ini masih banyak orang tak tahu tindakan apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban teman, kerabat, saudara, atau kolega yang terinfeksi HIV. Atik mencontohkan beberapa bentuk support yang dapat Anda lakukan bagi mereka :
-Membantu pasien AIDS ‘berdamai’ dengan virus HIV di tubuh mereka. Ya kinkan mereka untuk menganggapnya sebagai sahabat, bukan kutukan. -Menemaninya pergi ke tempat konseling, bila ia ingin bicara dengan konselor yang paham mengenai dinamika psikososial ODHA. -Menemaninya pergi ke komunitas ODHA, bila ia ingin berbincang dengan sesama pasien AIDS. -Membantunya memperoleh akses mendapatkan obat ARV di rumah sakit atau institusi tertentu. -Mengingatkannya agar terus minum obat ARV secara disiplin. -Memotivasinya untuk membuat rencana hidup masa depan. -Menyemangatinya untuk bekerja dengan baik dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. -Mengakui karya yang dihasilkan ODHA, dengan cara membeli atau menggunakan layanannya.
|