Cinta Luar Biasa

redaksi June 17, 2013 Comments Off
Cinta Luar Biasa

Selalu ada cerita cinta luar biasa dalam kehidupan. Terselip di film Les Miserables, Fireproof,dan konserJennifer Lopez.

Saya sering mendapat pelajaran hidup dari film. Baru-baru ini saya menonton dua film berkesan. Pertama, film terbaik kategori musikal versi Golden Globe, Les Miserables.Sosok Fantine, ibu yang mencintai Cossette, anaknya, mencuri hati saya. Sungguh indah. Ketika Fantine meninggal, kasih sayang untuk Cossette diberikan oleh ‘ayah dan ibu pengganti’, Jean Valjean. Cinta yang tulus dari Jean itu tak hanya menyelamatkan Cossette, tapi juga menjadi ‘nyawa’ untuk Jean. Quotesfavorit saya: “Mengasihi orang lain bagaikan memandang wajah Tuhan.”

Film kedua adalah film lama, Fireproof. Kisah cinta mengharukan. Perjuangan seorang suami egois, yang sepakat bercerai dengan istrinya, namun dipaksa bertahan oleh ayahnya. Ia mau mencoba karena menghormati permintaan ayahnya yang memberinya buku untuk mencoba usaha ‘berbaikan’ selama 40 hari. Hingga hari terakhir usaha itu gagal. Namun keegoisan seorang suami luluh, berganti dengan rasa rendah hati, mengakui kesalahannya. Cintanya kembali, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Usaha itu pun diteruskan, meski persidangan perceraian di depan mata. Di hari ke-43 usaha itu berhasil. “Tak ada yang melarang saya melakukannya terus menerus,” kata suami itu.

Cinta memang punya beragam cerita. Saya juga. Seperti semua ibu di dunia ini, Elandasaya berani mengatakan: saya pemilik cinta luar biasa untuk anak-anak saya. Saya berikan contoh unik ini. Anak pertama saya, Sydney, 14 tahun, sering iri karena saya bisa nonton berbagai konser. Tentu sehubungan dengan pekerjaan saya sebagai jurnalis. Mulai dari musisi senior David Foster, George Benson, Sheila Madjid. Anggun C. Sasmi, GIGI, Kahitna, Rossa, Titi DJ. Sampai musisi kesayangan Sydney, Katy Perry, Bruno Mars, Maroon 5. Saya ingin mengajaknya. Sayangnya saat ada konser yang dia sukai (bukan David Foster), ia di tengah jadwal ulangan. Sydney ingin sekali diizinkan nonton konser (bersama saya). Janji pun saya ucapkan. Saat Jennifer Lopez/JLo konser di Jakarta, Sydney berteriak, “Saya mau nonton, dance-nya keren. Ayo bunda. Ini akan jadi konser pertama yang saya tonton,” kata Sydney. Baiklah. Tiket kelas festival di tangan. Ya, saya tidak bisa duduk manis, kata Sydney di festival seru!

Malam menjelang konser, Jakarta dikepung macet. Dari kantor ke Ancol 2 jam, lalu mobil merayap menuju gedung konser, 2,5 jam. Sydney dari rumah kami di pinggir kota, menempuh perjalanan 4 jam. Kabar di twittermengatakan, JLo mengerti kondisi Jakarta malam itu dan memundurkan showpukul 21.30. Saya dan Sydney bertemu di Ancol dalam antrean. “Bunda, kita mesti naik ojek.” Hah? Ojek? Haduh. Saya? Naik ojek? “Nggakapa-apa bunda, malam ini nggakperlu menjaga image, orang akan maklum, karena semua orang naik ojek. Tidak perlu takut juga, karena jaraknya kan dekat. Daripada telat,” kata Sydney. Jarak itu memang membuat kami serba salah. Jalan kaki tidak mungkin, naik mobil bisa sejam.

Saya memandang Sydney. Ini pengalaman pertamanya menonton konser. Baiklah. Tapi… ada syaratnya. Saya berbisik ke telinga Sydney, dan dia tertawa sambil mengangkat jempol. Jadilah Pak Idris, driver, ‘menyewa’ motor seorang tukang ojek, lalu memboncengkan Sydney (di tengah) dan saya! Saya memejamkan mata hingga tiba di tujuan. Begitu masuk, konser dimulai. Sydney bernyanyi. Saya menyaksikan kebahagiaannya. Tentu dengan jantung yang masih berdetak lebih kencang karena efek naik ojek. Demi cinta bunda padamu, Sydney.

Foto: www.sxc.hu

Comments

comments