Veronica Colondam: Perhatikan Masa Depan Anak Bangsa

redaksi February 14, 2012 Comments Off

Bagaimana saya diingat jika saya sudah tiada?” Pertanyaan ini menjadi cikal bakal berdirinya YCAB. Seperti diceritakan Veronica pada Fiona Yasmina.

Anak-anak merupakan aset penting untuk bangsa Indonesia. Mereka adalah generasi penerus bangsa, “Saya percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan mengoptimalkan segala potensi yang mereka miliki. We believe that every child has an equal right to live a life to the fullest,” tutur Pendiri dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang akrab disapa Vera ini.

Namun, memberi anak-anak kesempatan tersebut bukanlah hal sederhana. Nyatanya banyak yang harus dipenuhi, antara lain kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan mereka. ”Ambil saja contoh, masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan. Faktanya, angka putus sekolah di Indonesia masih tinggi. Setiap menit, terdapat empat hingga enam anak yang tidak melanjutkan sekolah di Indonesia. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, tidak hanya menjadi ‘Pekerjaan Rumah’ Pemerintah saja, namun menjadi PR kita semua,” ujar ibu tiga anak ini.

Karena itu, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan menjadi titik perhatian utama YCAB, sebagai yayasan non-profit yang memiliki misi memberikan harapan untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak bangsa. ”YCAB sangat peduli pada masalah kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sebagai modal untuk meningkatkan Human Development Index (HDI) bangsa kita.”

Apa pelajaran paling menarik yang Anda dapatkan dari YCAB?

Sebenarnya tidak ada pelajaran terakhir karena manusia selalu belajar sepanjang hidupnya. Namun, yang jelas, pertanyaan tentang cara saya ingin dikenang setelah saya tiada menjadi motivasi terbesar saya membangun Yayasan Cinta Anak Bangsa saat usia 26 tahun. Keik nginan itu yang kemudian menjadi semangat saya melakukan sesuatu bagi sekitar, memberikan arti bagi kehidupan di sekitar saya melalui kegiatan-kegiatan yang yayasan lakukan sejak tahun 1999 hingga saat ini. Saya ingin mendorong kemandirian remaja di Indonesia. Pada saat itu, saya melihat fakta meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, saya tergerak melakukan tindakan pencegahan preventif primer. Jadilah saat itu YCAB aktif melakukan gerakan kampanye antinarkoba ke sekolah-sekolah di Indonesia, yang hingga kini masih tetap kami jalankan, dan sudah menjangkau lebih dari 1,7 juta anak se-Indonesia. Salah satu pilar YCAB bertajuk Healthy Lifestyle Promotion (HeLP) ingin membuat remaja Indonesia memiliki gaya hidup sehat, dan jauh dari perilaku berisiko. Kesehatan merupakan hal yang penting bagi kita semua. Bagi remaja, mereka perlu sehat untuk bisa maksimal dalam belajar, apalagi untuk bekerja nantinya.

Apa yang menjadi motivasi Anda dalam memandirikan remaja Indonesia melalui tiga pilar program YCAB?

Motivasi saya untuk memandirikan remaja Indonesia melalui tiga pilar program YCAB berasal dari motivasi internal untuk memberikan arti dalam kehidupan saya, to give me a purpose in life. Serta motivasi eksternal untuk meningkatkan Human Development Index (HDI) Indonesia agar bangsa ini lebih kompetitif di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Bagi saya dengan membangun kemandirian remaja Indonesia, sama saja dengan turut serta membangun bangsa. Sebab pembangunan kemandirian mereka melalui capacity building, pendampingan pendidikan, dan pengembangan keterampilan kewirausahaan, dalam jangka panjang juga akan memberikan dampak yang signifikan bagi Indonesia.

Saat ini YCAB sudah bergerak ke arah pendidikan dan juga kewirausahaan, bisa diceritakan latar belakang pergerakan ke arah sana?

Masuknya YCAB ke arah pendidikan dan pengembangan kewirausahaan dilatarbelakangi keprihatinan kami akan rendahnya Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Sampai saat ini, HDI Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Berdasarkan data terkait HDI yang baru-baru ini disampaikan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, HDI Indonesia masih berada pada urutan ke-111 dari 177 negara di dunia.

HDI yang terdiri dari komponen kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, kemudian mendorong kami untuk melakukan program yang bertujuan memandirikan remaja Indonesia, melalui tiga pilar program yang juga fokus pada ketiga komponen tersebut. Ketiga pilar program kami yaitu: Healthy Lifestyle Promotion (HeLP) yang fokus pada promosi gaya hidup sehat, House of Learning and Development (HoLD) yang fokus pada pendidikan bagi remaja putus sekolah dan prasejahtera, serta Hands-on Operation for Entrepreneurship (HOpE) yang fokus meningkatkan kesejahteraan ibu dan remaja pra sejahtera melalui pembekalan keterampilan dan modal wirausaha. Kami lalu memutuskan memberikan pembekalan pendidikan dan pengembangan kewirausahaan, guna memandirikan remaja Indonesia secara ekonomi.

Saat ini pendidikan dan kewirausahaan di Indonesia masih rendah apabila dibandingkan dengan negara lain. Sebagai informasi, indeks pembangunan pendidikan Indonesia sebagaimana data yang disampaikan UNESCO, menunjukkan bahwa peringkat Indonesia turun dari 65 ke 69, dari 127 negara. Sementara itu, terkait kewirausahaan, Small and Medium Entreprise (SME) di Indonesia juga masih rendah. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kemajuan sebuah bangsa, sedangkan kewirausahaan merupakan salah satu komponen pendorong perekonomian. Dan kewirausahaanlah yang akan mengangkat martabat dan ekonomi bangsa Indonesia. Ini menjamin sustainability. Ironisnya, mayoritas masyarakat miskin kurang begitu peduli pada tingkat pendidikan anak mereka dan seringkali kesempatan anak untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi harus dikorbankan demi mencari nafkah dan membantu perekonomian keluarga.

Dalam hal pendidikan, masalah terbesar Indonesia adalah kualitas dan relevansi. Oleh sebab itu, pilar program YCAB HoLD dan HOpE fokus pada dua area tersebut, dengan tujuan membuka akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembekalan keterampilan dan Information Technology. Semua ini diprioritaskna untuk anak putus sekolah dan anak dari keluarga pra sejahtera, juga mendorong kemandirian ekonomi melalui pengembangan kewirausahaan. Bukan hanya anaknya, ibunya pun kami beri pendidikan pengembangan kewirausahaan sehingga anak mereka bisa fokus menempuh pendidikan.

Bagaimana cara Anda menyelamatkan anak-anak yang perlu pembekalan tersebut?

YCAB berupaya menjaring anak-anak putus sekolah dan menyediakan kelas belajar paket dan kursus Bahasa Inggris serta komputer yang tersertifikasi dan berkualitas dari BINUS University. Selain itu, melalui HopE, kami memberikan mereka keterampilan vokasional seperti pendidikan salon dan menjahit yang tersertifikasi. Kami juga berikan modal usaha.

Adakah kiat khusus mengajak anak jalanan dan anak putus sekolah untuk kembali ke bangku sekolah melalui Rumah Belajar YCAB?

Pada mulanya kami memang mengalami kendala sebab mereka sebelumnya sudah terbiasa mendapatkan uang dari hasil bekerja di jalan. Mereka belum bisa melihat efek positif jangka panjang dari sebuah pendidikan. Sampai akhirnya kami mendapatkan sejumlah lulusan yang menjadi role model bagi generasi selanjutnya. Dengan adanya role model, mengajak anak jalanan kembali ke bangku sekolah atau belajar di Rumah Belajar YCAB bukan lagi sebuah hal sulit. Sebagai contoh, pembukaan Rumah Belajar di Tapanuli Tengah mampu menjaring 200 siswa dalam waktu tiga hari, dan siswa dalam daftar tunggu sebanyak 50 – 100 orang. Hal ini menunjukkan kesadaran akan dampak positif jangka panjang dari pendidikan yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Sudah berapa banyak anak yang lulus dan berapa yang sudah bekerja atau memiliki usaha sendiri?

Sejak 2003 hingga Maret 2011, kami sudah mendidik 10.376 siswa dan 77 % lulusan kami mendapatkan pekerjaan. Lulusan Rumah Belajar umumnya dapat dikatakan mandiri secara ekonomi, baik karena perannya sebagai pekerja maupun karena mereka bisa mendirikan usaha sendiri yang mendatangkan penghasilan. Banyak dampak positif yang kami lihat dalam diri mereka, salah satunya pada perubahan sikap. Yang semula tidak memiliki sikap untuk maju dan sukses, kini termotivasi menjadi orang sukses karena melihat kisah sukses lulusan Rumah Belajar sebelumnya. Sebagai contoh, salah satu lulusan kami yang bernama Kemal kini sudah menjadi pegawai di perusahaan asing Tokyo Marine dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Ini menjadi inspirasi bagi siswa Rumah Belajar lainnya untuk memiliki semangat juang dan sikap sukses seperti Kemal. Siswa yang berhasil mandiri secara ekonomi dengan bekal pengetahuan dan keterampilan di Rumah Belajar YCAB, dalam jangka panjang tentu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Setidaknya mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

Salah satu pilar YCAB terkait narkoba. Bagaimana meyakinkan pecandu kalau Anda belum pernah mengalaminya?

Tidak selalu harus dari kesaksian langsung dari seseorang yang pernah mengalami suatu hal. Tujuan dari kampanye kita adalah mengalihkan perhatian remaja kepada hal-hal yang positif, selain mengingatkan mereka tentang bahaya dan konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba. Jadi bukan cuma mengajarkan “Say No to Drugs”, tapi juga “Say Yes! untuk kegiatan yang positif”.

Ada trik khusus menghadapi mereka?

Kami melakukan dua model pendekatan untuk mengajarkan anak-anak tersebut agar jauh dari perilaku berisiko, melalui pilar program HeLP. Pendekatan pertama adalah dengan mempromosikan gaya hidup sehat sehingga mereka jauh dari perilaku berisiko, dan berkata “TIDAK” pada narkoba. Model pendekatan kami antara lain dengan penyampaian serangkaian modul dan sesi tanya jawab atas materi yang kami sampaikan. Sedangkan model pendekatan kedua adalah dengan mengajak mereka mengatakan “YA” pada kegiatan positif yang memberikan kontribusi bagi sekitarnya. Sebagai informasi, kami memiliki program “Do Something” Indonesia, diadopsi dari program “Do Something” Amerika, yang bertujuan mengajak mereka melakukan hal positif bagi sekitarnya.

Dari mana Anda tahu mengenai pencegahan narkoba, pendidikan, dan pendampingan ekonomi untuk pengembangan kewirausahaan, padahal dasar ilmu Anda adalah Mass Communication di American University?

Komunikasi sebagai salah satu bidang ilmu yang melatarbelakangi pendidikan saya justru menjadi salah satu elemen penting bagi yayasan dalam menjalankan program. Komunikasi menjadi dasar penting untuk ketiga pilar YCAB. Adapun pengetahuan saya terkait narkoba banyak saya peroleh ketika saya mengambil gelar MSc dari The Imperial College London and the London School of Hygiene and Tropical Medicines.

Sebagai ibu, adakah kiat khusus menjaga anak-anak dari pengaruh negatif narkoba?

Saya selalu menyediakan quality time per harinya bersama anak-anak saya yang saat ini beranjak remaja. Quality time tersebut juga menjadi ruang bagi saya untuk mengetahui aktivitas yang sedang mereka laksanakan atau dengan kata lain menjadi media untuk memonitor kegiatan mereka. Saya selalu arahkan mereka untuk mengikuti segala kegiatan yang positif, yang bisa mendorong dan mengoptimalkan potensi mereka, sehingga dengan demikian mereka bisa terjauh dari hal-hal negatif termasuk penyalahgunaan narkoba. Merujuk ke buku saya yang pertama “Raising Drug-Free Children”, ada beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk membesarkan anak bebas narkoba. Misalnya, membangun sebuah hubungan atau mengenal anak sepenuhnya, terlibat aktif dalam hidup anak, berkomunikasi efektif, membuat peraturan atau batasan-batasan bagi anak, mengajarkan “life skills” pada anak, serta mewaspadai media sebagai “orangtua kedua”.

Tentu YCAB mendapat dukungan dari banyak pihak. Boleh ceritakan dari mana saja YCAB mendapat dukungan? Seberapa besar dukungan pemerintah terhadap YCAB?

Kami sangat senang karena hingga kini mendapat donatur individu, perusahaan lokal maupun multinasional, dan juga Pemerintah. Hingga kini kami sudah menjalin kemitraan jangka panjang dengan lebih dari 19 perusahaan baik nasional maupun multinasional, serta beberapa lembaga Pemerintah. Konsep kolaborasi trisektor dalam setiap program kami bisa dikatakan sukses, karena memang model kolaborasi semacam ini penting dalam menjamin keberlangsungan program, atau sustainability, yang menjadi salah satu elemen utama implementasi program-program kami. YCAB juga berevolusi menjadi Social Entreprise yang memiliki beberapa profit centers yang membantu sustainability YCAB. Dengan model social entreprise dan dukungan profit centers ini, kami berusaha untuk menjadi independen.

Bagaimana perkembangan YCAB selama ini setelah berdiri 12 tahun?

Selama 12 tahun, YCAB sudah berevolusi menjadi sebuah social entreprise yang tidak hanya fokus pada masalah narkoba, namun lebih luas ke area pengembangan remaja (youth development), dan bertujuan memandirikan remaja Indonesia. Kami juga sudah membuka kantor internasional kami yang berkantor pusat di New York, di bawah section 501 (c) (3), dengan fasilitas pengurangan pajak bagi para pembayar pajak Amerika Serikat. Ke depannya kami ingin memberikan dampak tidak hanya di kawasan Indonesia saja namun juga ke negara berkembang lain di kawasan Asia.

Di tengah kesibukan, bagaimana Anda mengatur waktu antara karier dan anak-anak Anda?

Bagi saya keluarga tetap menjadi prioritas dan menjadi ibadah utama. Sedangkan karir merupakan pelengkap saja. Menjalankan tugas sebagai seorang Ibu merupakan hal yang utama bagi saya, khususnya dalam mendidik anak-anak saya yang sekarang juga memasuki usia remaja. Oleh karena itu, keluarga tetap menjadi perhatian utama di samping karir. Untuk apa dianggap baik di mata masyarakat kalau tidak dianggap baik oleh keluarga sendiri.

Share Button

Comments

comments

Comments are closed.